Iklan

terkini

Sejarah Sistem Pengelolaan Tanah: Dari Ekotipe Paleoteknik Hingga Ekotipe Neoteknik

Profaupedia
21 Maret 2022, 11.48 WIB Last Updated 2022-03-21T03:57:44Z

Ilustrasi sitem pengelolaan tanah dalam sejarah. - Source: designbump.com/world history


Sistem pengelolaan tanah di Indonesia sebelum masa kolonial, pada umumnya sama yakni didasarkan pada tradisi yang telah diwariskan turun temurun. Secara umum teknologi pengelolaan tanah (sistem bercocok tanam), terbagi atas dua macam yakni dengan cara berpindah-pindah dan menetap. Model pertama ditemukan di kebun atau di ladang, di mana penggarapnya selalu ingin berpindah-pindah terutama jika ingin memperluas areal yang digarapnya. Lain halnya dengan model pengelolahan tanah kedua yang menetap, banyak ditemukan di daerah persawahan.


Pada jenis bercocok tanam di ladang, petani terlebih dahulu menebang dan membersihkan hutan atau membakarnya. Pengelolaan tanah dalam pola pertanian seperti ini tidak terlalu berarti, mengingat sistemnya tidak menggunakan cangkul, pemberian air, atau pupuk sebagai penyubur. Air untuk kesuburan tanaman hanya diperoleh melalui hujan tanpa irigasi yang mengaturnya, sedangkan abu bekas pembakaran pada hutan dianggap sebagai pupuk yang bakal menyuburkan tanaman.


Pola penanaman macam-macam biji-bijian, juga tampak sederhana dimana hanya menggunakan sebatang kayu ukuran dan model tongkat kemudian ditancapkan ke dalam tanah lalu ditarik kembali. Modus pelaksanaannya yakni seorang laki-laki biasanya sebagai pemegang tongkat kayu pembuat lobang kecil, diikuti oleh perempuan yang tugasnya memasukkan biji-bijian itu ke dalam lubang yang telah dibuat. Tugas laki-laki lainnya seperti yang berlaku pada masyarakat Soba Toni di Timor-Barat dan juga masyarakat lainnya di Indonesia yakni membuat pagar, membersihkan, dan membakar hutan. Dalam proses pemeliharaan tanaman dan menuai hasil, wanita (istri) serta anak-anak biasanya juga dilibatkan (Koentjaraningrat, 1984). 


Pola penanaman seperti yang dicontohkan oleh Koentjaraningrat tersebut, sebenarnya tidak hanya dijumpai di Pulau Jawa dan di Timor-Barat, melainkan di tempat lain pun sepertinya umum digunakan. Di kabupaten Selayar Sulawesi Selatan misalnya, membuat lubang dengan tongkat disebut noja’, sedangkan menanam biji-bijian ke dalam lubang tanah yang dilakukan oleh para perempuan itu dinamakan a’lamung. Istilah menanam ini dalam bahasa Makassar diartikan sama, sedangkan orang Bugis menyebutnya “mattaneng”.   


Sistem pengelolahan tanah pada dasarnya, merupakan salah satu rangkaian proses produksi yang dilakukan oleh manusia dalam mengelola sumber bahan makanan dari alam. Bahkan sistem tertentu sekaligus merupakan ciri perkembangan ekonomi manusia (masyarakat), terutama dalam menganalisa tentang fase perkembangannya. Karena itu, dalam upaya menemukenali sistem pengelolahan tanah di Indonesia sebelum masa kolonial dan jauh sebelum itu rasanya belum lengkap jika tidak disertai oleh contoh dari negara lain yang sesungguhnya memiliki ciri yang hampir sama.


Kesamaan tersebut terletak pada proses pengalihan energi dari lingkungan ke manusia, yang pada awalnya dimulai dari pemanfaatan seadanya dari sumber-sumber energi lainnya yang ada di lingkungan bersangkutan. Petani misalnya menggunakan alat dari kayu hutan, memanfaatkan sungai untuk kebutuhan air, dan sejumlah fasilitas sederhana lainnya dari alam. Sistem pengalihan (transfer) energi dari lingkungan kepada manusia dinamakan ekotipe (ecotype).


Terminologi ekotipe sebagai salah satu rangkaian dari proses produksi yang dilakukan oleh manusia untuk melangsungkan hidupnya, pernah diintrodusir oleh seorang antropolog, bernama Erick Wolf (1985). Selain itu, kajian tentang aspek kehidupan petani yang tidak kalah  kesohor dengan “involusi pertanian”-nya, Geertz (1983), “dualisme ekonomi” milik Boeke (Lyon, 1970), ataupun “krisis subsistensi” ala James Scott (1976), dituangkan secara periodik-kronologis sehingga dari masing-masing fase perkembangannya menunjukkan karakteristik tersendiri.


Dalam perspektif Wolf, ekotipe tersebut dibagi atas dua bagian yakni ekotipe paleoteknik yang ditandai oleh kecenderungan menggunakan tenaga manusia dan hewan. Ekotipe lainnya yakni neoteknik ditandai oleh perkembangan sektor pertanian terutama masa revolusi industri. Kedua masa ini memang berada pada interval waktu yang sangat lama, sehingga sangat penting dikaji lebih jauh sekaligus mengetahui perbedaan mendasar yang dimilikinya.

 

Ekotipe-ekotipe Paleoteknik

 

Ekotipe paleoteknik yang didasarkan atas pengolahan tanah dalam analisisnya digambarkan sebagai keturunan langsung dari revolusi pertanian pertama. Masa ini dimulai sekitar tahun 7000-6000 SM dan memperoleh karakteristik yang esensial menjelang sekitar 3000 SM. Bentuk-bentuk ekotipe petani paleoteknik adalah sebagai berikut:

  1. Sistem dimana tanah yang sudah tandus dibiarkan nganggur untuk jangka waktu lama (long-term fallowing systems), yang dikaitkan dengan pembakaran hutan untuk membuka tanah dan bercocok tanam dengan menggunakan tajak. Sistem ini biasa disebut swidden system, yang dalam bahasa Inggris berarti membuka tanah dan membakar.
  2. Sistem tanah sebagian (sectoral fallowing systems), yakni tanah yang dapat ditanami dibagi menjadi dua sektor atau lebih yang ditanami selama dua atau tiga tahun lalu dibiarkan kosong selama tiga hingga empat tahun. Perkakas dominan adalah tajak dan tongkat pencocok, yang banyak dijumpai di Afrika Barat dan di daerah pegunungan Mexico.
  3. Sistem tanah bergilir dengan siklus singkat (short-term fallowing systems), yakni tanah ditanami selama satu atau dua tahun lalu dibiarkan kosong selama satu tahun sebelum ditanami kembali. Perkakas yang dominan adalah bajak yang ditarik oleh hewan. Sistem ini biasanya berkaitan dengan penanaman gandung (cereals) dan dijumpai di Eropa dan Asia Tengah, sehingga dinamakan Eurasian grainfarming (sistem tanam gandung Eurasia).
  4. Sistem tanam permanen (permanen cultivation), yang berkaitan dengan teknik-teknik untuk menjamin adanya penyediaan air yang permanen bagi tanaman yang sedang tumbuh. Pola itu dinamakan sistem hidrolik (hydraulic systems) oleh karena ketergantungannya pada pembangunan sarana-sarana pengairan.
  5. Penanaman permanen lahan-lahan pilihan (permanent cultivation of favored plots), dikombinasikan dengan satu jalur tanah di daerah belakang (hinterland) yang dimanfaatkan secara sporadis. Sistem ini dinamakan sistem dalam lahan luar (infield-outfield systems) yang dijumpai di sepanjang pantai Atlantik di Eropa Barat (Wolf, 1985).



Jika diperhatikan kelima ekotipe petani paleoteknik tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat tiga di antaranya yang berlaku pada masyarakat petani di Indonesia. Ketiga jenis tersebut yakni swidden system (tebang bakar), short-term fallowing (tanam bergilir dengan siklus singkat) dan hydraulic system atau permanen cultivation (sistem tanam permanen). Dua bentuk lainnya yang tidak digunakan yakni sectoral fallowing system (sistem tanah sebagian) dan  permanent cultivation of favored plots (penanaman lahan-lahan pilihan yang dimanfaatkan secara sporadis).



Kategori swidden system (tebang bakar) dari dulu hingga kini, tampaknya tetap menjadi ciri khas dan kebiasaan masyarakat tani pedesaan di Indonesia. Hal seperti ini biasanya dijumpai di daerah pegunungan, terutama bagi mereka yang membuka untuk jenis tanaman seperti cengkeh, kakao, vanili, dan lain-lain. Meskipun penebangan di hutan telah menggunakan peralatan modern seperti alat potong (penebang) jenis senso, namun proses membersihkannya sebelum ditanami pada umumnya dilakukan dengan pembakaran. Letak perbedaan sistem pengelolahannya, yakni kondisi tanah di Indonesia yang subur menyebabkan petani tidak membiarkan tanah tertentu menjadi kosong dalam jangka waktu yang lama seperti contoh yang digambarkan oleh Wolf tersebut.


Kategori kedua yakni short-term fallowing (tanam bergilir dengan siklus singkat), juga merupakan salah satu ciri dari sistem pengelolahan tanah di Indonesia. Hanya saja perbedaannya terletak pada kecenderungan masyarakat tani di Asia Tengah dan Eropa membiarkan tanahnya kosong selama beberapa waktu lamanya, sedangkan di Indonesia tidak dilakukan. Kebiasaan masyarakat tani di negara ini yang menanam jenis tanaman jangka pendek, mungkin merupakan alasan sehingga tanah yang digarapnya tidak boleh kosong terlalu lama. Biasanya, jenis tanaman yang digilir tersebut disesuaikan dengan musim sehingga kebutuhan mereka yang harus terpenuhi dari hasil tanamannya tersebut dapat tercapai.


Sebagian masyarakat petani sawah di Sulawesi Selatan dan juga di tempat lain, mempunyai kebiasaan menanami lahannya pascapanen padi dengan tanaman berbeda yang disesuaikan dengan musim. Pada musim kemarau biasanya lahan itu digunakan untuk menanam jenis tanaman seperti jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan, dan jenis palawija lainnya sebagai selingan. Kebiasaan ini selain dimaksudkan untuk menyesuaikan musim seperti diwaktu hujan dengan tanaman padi dan kemarau dengan tanaman lain yang cocok, kemungkinan juga atas pertimbangan demi variasi hasil pertanian yang diperolehnya.


Kategori ketiga yakni permanen cultivation (sistem tanam permanen) juga merupakan ciri pertanian di Indonesia, terutama sejak masuknya pengaruh modernisasi di sektor pertanian. Khusus di daerah pegunungan, para petani cenderung menggunakan lahan pilihan untuk jenis tanaman permanen umumnya bagi mereka yang memilih tanaman jangka panjang. Karena itu, para petani diuntut agar memiliki kemampuan (skill) yang khusus dan pengetahuan tentang tanah yang cocok untuk digarapnya demi peningkatan produksi pertanian. Meskipun demikian, sistem ini tetap berbeda dengan ciri kelima dari penggolongan yang dilakukan oleh Wolf yakni pemanfatannya yang dilakukan secara sporadis.

 

Ekotipe-ekotipe Neoteknik


Berbeda dengan penciri ekotipe sebelumnya, neoteknik yakni masa yang oleh Wolf menyebutnya sebagai keturunan revolusi pertanian kedua, lahir sejalan dengan revolusi industri. Pada masa yang berlangsung sekitar abad ke-18 ini, dapat dipastikan telah mengadopsi teknologi modern dalam mengelolah tanah pertanian sehingga hasil produksi yang diperoleh pun otomatis bertambah banyak. Kenyataan tersebut, tampak dalam tulisannya berupa pengelolaan tanah pertanian dengan pengembangan rotasi jenis tanaman dan penggunaan pupuk buatan. Sistem Norfolk adalah rotasi jenis tanaman yang dikembangkan di Flanders sejak abad ke-15, yakni rotasi yang sistematik dalam musim-musim yang berurutan antara gandum, turnip (sejenis lobak) dan clover di ladang yang sama. Demikian pula di Eropa Selatan, pupuk buatan digunakan secara teratur menjelang 1400.


Meskipun penggunaan pupuk telah digalakkan sejak masa itu, namun menurut Wolf bahwa penerapan ilmu kimia secara sistematis pada masalah-masalah pertanian baru dikenal kemudian. Diterbitkannya risalah independen pertama mengenai ilmu kimia pertanian “Agriculturae Fudamenta Chemica” oleh Johann Wallerius di Swedia 1761, barulah dianggap sebagai awal penggunaan ilmu kimia secara sistematis tersebut.


Dalam sumber yang sama dijelaskan ekotipe neoteknik atau revolusi pertanian kedua  memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Hultikultura yang dispesialisasikan (specialized horticulture), yang berkaitan dengan produksi hasil kebun, hasil pohon atau hasil kebun anggur, di atas lahan-lahan yang dipelihara secara permanen. Ekotipe ini pertama kali muncul di daerah Mediterrania, didorong oleh adanya kecenderungan ke arah spesialisasi regional; (2) Perusahaan susu (dairy farming), suatu cabang khusus dari sistem pertanian dengan bajak dan dengan siklus rotasi lahan yang pendek di Eropa kontinental; (3) Pertanian campuran (mixed farming), dimana petani memelihara ternak dan bercocok tanam untuk tujuan-tujuan komersial . Tipe ini merupakan satu ciri dengan ekotipe Transalpina, dan mungkin nama yang tepat adalah balanced livestock and crop raising (beternak dan bercocok tanamam secara seimbang); dan (4) Perkebunan daerah tropis (crops of the tropics), yakni daerah-daerah dimana kehidupan petani didominasi oleh hasil tanaman yang sudah mapan di pasar daerah itu.


Jika dihubungkan antara keempat ciri pertanian neoteknik tersebut dengan sistem pengelolahan tanah di Indonesia,  memiliki kesamaan terutama sejak bergulirnya modernisasi. Pemilihan lahan-lahan yang subur dan tanaman permanen sekaligus disesuaikan dengan permintaan pasar sebagai ciri revolusi pertanian kedua di Eropa, juga berlaku di Indonesia dalam bentuk pembangunan sektor agraria melalui program “Revolusi Hijau” (Green Revolution). Selain itu, pembangunan pertanian dilakukan dengan program perluasan areal pertanian (ekstensifikasi) dan peningkatan hasil melalui pupuk dan bibit unggul (intensifikasi). Ekotipe neoteknik yang dihubungkan dengan modernisasi di Indonesia, dibahas secara terpisah pada uraian khusus.


*Sumber: Ahmadin (2013). Sejarah Agraria: Sebuah Pengantar. Makassar: Rayhan Intermedia

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Sejarah Sistem Pengelolaan Tanah: Dari Ekotipe Paleoteknik Hingga Ekotipe Neoteknik

Terkini

Iklan