Masjid Tua Gantarang: Tiang Utama Terbuat Dari Batang Pohon Lombok Raksasa

Masjid Tua Gantarang: Tiang Utama Terbuat Dari Batang Pohon Lombok Raksasa

06 Februari 2021, 16.41

Masjid tua Gantarang Lalangbata (Masjid Awaluddin), Kepulauan Selayar sebagai warisan Dato Ri Bandang, sang penyebar Islam daerah ini. (DOK. PROFAUPEDIA/AHMADIN UMAR)


Sejarah masuk dan berkembangnya ajaran Islam di Gantarang Kabupaten Kepulauan Selayar, merupakan bagian penting dari peran sosok penyebar yang terkenal dengan gelar Dato Ri Bandang. Ulama asal Minangkabau bernama Khatib Abdul Makmur ini, mulai menyebarkan ajaran Islam di pantai timur Pulau Selayar, tepatnya di sebuah pusat pemukiman bernama Gantarang Lalangbata.


Masjid tua Gantarang bernama Masjid Awaluddin yang berdiri di atas lahan seluas 25 meter ini, diyakini dibangun oleh Dato Ri Bandang. Berlokasi di Dusun Gantarang Lalangbata, Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontomanai, Kabupaten Kepulauan Selayar. Dusun atau kampung ini berada dalam sebuah area yang dikelilingi oleh pagar batu, sekaligus merupakan bakti masyarakatnya hidup dalam benteng (Lalangbata: Bahasa Selayar). 


Perwajahan masjid yang tampak sekarang sudah merupakan hasil renovasi. Awalnya atau bentuk asli dari bangunan masjid ini relatif sederhana berbahan tembok dari batu kali yang dipahat, kerangka bangunan dari kayu, dan atapnya terbuat dari bahan ijuk. 


Jika anda berkunjung ke masjid ini sekarang, tentu sudah berbeda dengan kondisinya dahulu. Pintu masuk masjid terbuat dari bahan kayu dengan lebar 1,5 meter dan tingginya 2 meter. Jendela masjid sebanyak 10 buah tampak didesain sangat sederhana. Pada bagian selatan dan utara masjid ini terdapat teras terbuka dan di bagian timurnya ada teras tertutup seluas 3 x 9 meter yang harus dilalui saat hendak masuk ke ruang utama rumah ibadah ini.


Ruang utama sebagai tempat melaksanakan ibadah shalat, luasnya 2,126 x 1,685 meter. Bangunan bercorak hijau ini atapnya berbentuk tumpang yang ditopang oleh tiang penyangga sebanyak 16 buah. Terdapat satu tiang utama dengan tinggi 6,696 meter yang berada di bagian tengah masjid. Dengan demikian, total jumlah tiang sebanyak 17 buah (sama dengan jumlah rakaat semua shalat wajib sehari semalam). 


Satu hal unik menurut cerita masyarakat setempat bahwa tiang utama yang berada di tengah masjid itu konon terbuat dari bahan pohon lombok (cabe) raksasa. Dalam masyarakat Selayar, pohon lombok raksasa diyakini memiliki kekuatan sakti dan dapat dijadikan oleh pihak-pihak tertentu sebagai zimat meski sedikit bagian yang diambil. Itulah sebabnya di era 1970-an dan bahkan 1990-an tiang ini dijaga seketat mungkin dari niat dan tindak orang-orang tertentu yang ingin mengambilnya. Tidak hanya itu, beduk tua berbahan kulit kerbau yang ada di masjid ini juga diyakini memiliki kekuatan magic.


Berada dalam masjid ini akan tampak oleh kita sebuah mimbar yang di sisi kiri dan kanananya terdapat bendera putih berulis aksara Arab. Beberapa kali Aku sempat ikut Shalat Jumat di masjid ini dan salah satu pemandangan unik yang tampak yakni khatibnya berkhutbah menggunakan Bahasa Arab yang dibaca dari sebuah naskah tua. Selain itu, sang khatib juga menggenggam sebilah pedang atau Pa'dang Mimbara dalam Bahasa Selayar. 


Tidak ada tarikh atau angka tahun yang menjadi penanda kapan persisnya ajaran Islam ini diterima oleh masyarakat Gantarang, kecuali data Lontarak setempat yang menuliskan perihal kata pamit yang diucapkan oleh Dato Ri Bandang kepada Sultan Pangali Patta Raja (Raja Gantarang). "Ero'ma apparuru antama ri Gowa" (Saya minta pamit akan menuju ke Gowa), demikian penggalan kalimat seperti tertulis dalam Lontarak yang kemudian dijadikan dasar bahwa setelah mengislamkan Gantarang, Dato Ri Bandang lalu menuju Gowa.


Selain itu, dalam Lontarak juga dijelaskan perihal ketakutan Raja Gantarang menerima ajaran Islam. "Mallakka' ri raja Gowa" (Saya takut pada Raja Gowa), kata Raja Gantarang dan disusul jawaban Dato' Ri Bandang: "Manna i Raja Gowa lakupantama tonji sallang" (Raja Gowa juga akan Saya islamkan).


Berkunjung ke Gantarang Lalangbata yang berada di ketinggian 275 meter dari permukaan air laut ini, tidak sulit seperti beberapa tahun lalu. Saya masih ingat saat berkunjung ke tempat ini pada 2008 lalu, harus berjalan jauh sekira 30 menit dari jalan poros untuk harus menaiki tebing batu saat tiba di sekitar perkampungan untuk sampai ke atas.


Pada Jumat (16/10/2020) siang, aku sempat berjung ke tempat ini dan kendaraan jenis sepeda motor serta mobil sudah bisa masuk hingga tangga naik ke perkampungan. Bahkan pada tebing batu akses menuju perkampungan ini, telah tersedia tangga besi yang memudahkan setiap pengunjung menuju Gantarang.


Jarak Gantarang Lalangbata dari Kota Benteng (Ibukota Kabupaten Kepulauan Selayar) sekira 12 km dengan jarak tempuh 30 menit. Dari Benteng kita menuju ke arah utara dan di Appabatu menuju ke arah timur melintasi Cinimabela dan beberapa kampung lainnya. Setelah melewati jalan-jalan berbukit dan berkelok, kita akan sampai di Gantarang Lalangbata.**



TerPopuler