Ritual Mappadendang Masyarakat Bugis

Ritual Mappadendang Masyarakat Bugis

25 Januari 2021, 12.54

Ilustrasi. Pelaksanaan Ritual Mappadendang pada masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. - WARISANBUDAYA.KEMENDIKBUD.GO.ID
 


Mappadendang adalah ritual ungkapan rasa syukur pasca panen yang digelar oleh masyarakat Bugis pada beberapa daerah di Sulawesi Selatan sejak zaman dahulu. Ritual ini digelar secara bersama-sama oleh masyarakat dalam kampung maupun tetangga kampung. Tempat pelaksanaan Mappadendang bervariasi seperti: di sawah, halaman Saoraja, atau lapangan, berdasarkan kesepakatan antara petani, pemerintah, dan dewan adat.


Mengutip laman Warisan Budaya Kemendikbud, komponen utama dalam acara ini, yaitu 6 perempuan, 3 pria, bilik Baruga, lesung, alu, dan pakaian tradisional yaitu baju Bodo. Para perempuan yang beraksi dalam bilik baruga disebut Pakkindona, sedang pria yang menari dan menabur bagian ujung lesung disebut Pakkambona. Bilik baruga terbuat dari bambu, serta memiliki pagar yang terbuat dari anyaman bambu yang disebut Walasoji.


Dalam sumber yang sama disebutkan saat musim panen tiba para warga biasanya memotong ujung batang padi dengan ani-ani. Ani-ani adalah sebuah pisau pemotong yang ukurannya kecil. Jika padi sudah terkumpul, biasanya padi hasil panenan tersebut akan dirontokkan dengan cara menumbuk dalam sebuah lesung.


Dalam buku "Manusia Bugis" karya Christian Pelras, dijelaskan bahwa ritual Mappadendang  juga digelar saat terjadi gerhana. Dilukiskan bahwa suatu bentuk musik perkusi khas ditemukan pada ritual Mappadendang (menumbuk lesung), di mana instrumen besarnya terbuat dari batang pohon yang dilubangi dan digantung beberapa inci di atas lubang tanah yang berfungsi sebagai kotak pemantul suara.


Para muda-mudi tulis Pelras, menggunakan tongkat kayu, sebagai pengganti alu bambu yang digunakan menumbuk padi, bergantian menumbuk lesung sepanjang siang dan malam mengikuti irama. Gadis-gadis menumbuk lesung dengan irama teratur, sementara para pemuda menumbuk kedua ujung lesung dengan irama lebih bersinkope. Bahkan alat musik itu kadangkala disertai pula oleh gendang dan gong.


Mujalil Idris dalam penelitian tentang Eksistensi Ritual Mappadendang di Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep, menulis alat-alat dan bahan yang digunakan dalam ritual ini. Pakaian yang digunakan saat digelar ritual yakni pakaian adat yang telah ditentukan, di mana para wanita wajib memakai baju Bodo, sedangkan laki-laki memakai lilit kepala serta baju hitam, seluar lutut lalu melilitkan kain sarung hitam bercorak.


Adapun alat yang digunakan dalam ritual Mappadendang lanjut Mujalil, yakni sebuah lesung berukuran kurang lebih 1,5 meter hingga maksimal 3 meter dengan lebar 50 cm. Bentuk lesungnya mirip perahu kecil, namun berbentuk persegi panjang. Selain itu, 6 batang alat penumbuk yang terbuat dari kayu atau bambu berukuran setinggi orang (dewasa, red) dan ada dua jenis alat penumbuk berukuran pendek sekira setengah meter.*


References

Idris, M. (2020). Eksistensi Mappadendang Dalam Rangkaian Acara Syukuran Panen Padi di Kecamatan Ma'rang Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Makassar: Program Pascasarjana UNM (Draft Tesis) .

Pelras, C. (2006). Manusia Bugis. Jakarta: Nalar.

Warisanbudaya.kemedikbud.go.id, "Mappadendang".

 

TerPopuler