Pengertian Prasasti, Jenis, dan Fungsinya

Pengertian Prasasti, Jenis, dan Fungsinya

29 Januari 2021, 06.38

Ilustrasi. Prasasti sebagai sumber sejarah. - DICTIO.ID

Kata “prasasti” berasal dari Bahasa Sanskerta “pracasti” yang berarti “ucapan-ucapan pujian”. Dalam bahasa Jawa kuno, kata “prasasti” berarti “amanat” atau ”perintah raja”.  Setelah dijadikan istilah bahasa Indonesia, “prasasti” mempunyai arti umum, yakni: batu bertulis, nampaknya kurang tepat, karena prasasti tidak hanya dibuat di atas batu, tetapi juga dibuat di atas tembaga (disebut Tamra Prasasti) dan logam mulia (emas dan perak). Dilihat dari segi bahasa yang dipakai dalam prasasti, maka umumnya prasasti di Indonesia memakai bahasa Sanskerta, Jawa kuno, Melayu kuno (Indonesia kuno), Bali kuno, dan Sunda kuno.


Jenis prasasti menggunakan bahasa Sanskerta seperti pada prasasti-prasasti Kerajaan Kutai (Kalimantan Timur), Taruma Negara (Jawa Barat), dan prasasti Dinasti Sailedra di Jawa Tengah. Kemudian jenis prasasti menggunakan bahasa Jawa kuno seperti pada prasasti-prasasti di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Prasasti berbahasa Melayu Kuno terdapat pada prasasti-prasasti Kerajaan Sriwijaya dan Dinasti Sailendra di Jawa Tengah. Bahasa Bali Kuno, umumnya dipakai pada prasasti-prasasti di Bali sampai tahun 1010 M. Adapun Bahasa Sunda kuno, dipakai pada prasasti-prasasti di Jawa Barat, yakni Prasasti Sri Jayabhupati (1030 M) dan Prasasti Batu Tulis (1255 M).


Dilihat dari segi huruf yang digunakan dalam prasasti, umumnya prasasti di Indonesia memakai huruf (beraksara): Pallawa, Jawa kuno, dan Prenagari. Huruf pallawa  adalah huruf yang dipakai di India Selatan pada masa Dinasti Pallawa (abad ke 4-8). Prasasti-prasasti di Indonesia yang memakai huruf Pallawa, antara lain: Prasasti Kerajaan Kutai (Kalimantan Timur), Prasasti Kerajaan Tarumanegara (Jawa Barat). Sedangkan huruf Jawa Kuno merupakan bentuk perkembangan dari huruf Pallawa. Huruf Pallawa sendiri merupakan bentuk perkembangan dari huruf Brahmi (India).


Huruf Jawa kuno terdapat pada prasasti Dinoyo (760 M) di Jawa Timur, merupakan prasasti yang berhuruf jawa kuno yang tertua. Huruf prenagari, menurut J.L. Brandes, Kroom, berasal dari Gujarat, sedangkan menurut Bosch berasal dari dari Benggala. Huruf Prenagari dianggap oleh para ahli sebagai prototype dari Huruf Dewa Nagari yang umum di pakai sekarang di India Utara. Prasasti-Prasasti yang memakai Huruf Prenagari hanya pada Prasasti Kalasan (778 M) dan Prasasti Kelurak (782 M).


Dilihat dari segi isi prasasti, pada umumnya prasasti-prasasti di Indonesia memuat hal-hal sebagai berikut: nama dan gelar raja, nama dan gelar pejabat-pejabat kerajaan, tanggal penulisan, nama dewa-dewa dan pendeta-pendeta, upacara-upacara kerajaan, hadiah-hadiah yang diberikan oleh raja, dan kutuk (sumpah) bagi barang siapa yang berani melanggar ketentuan-ketentuan sudah ditetapkan dalam prasasti.


Dari isi prasasti tersebut, maka kedudukan dan fungsi prasasti bagi masyarakat pada masa lampau adalah: merupakan maklumat resmi dari raja atau kerajaan, merupakan dokumen resmi negara/ kerajaan, sebagai usaha untuk mengabadikan suatu peristiwa penting, dan sesuai dengan sifatnya yang sakral, seringkali dipakai sebagai benda yang mempunyai kekuatan magis guna mencapai tujuan-tujuan tertentu.


Prasasti sebagai dokumen resmi, maka penentuan waktu merupakan soal yang penting. Permasalahannya adalah tidak semua prasasti memakai angka tahun. Untuk penentuan waktunya, maka cara yang digunakan adalah membandingkan huruf dan gaya bahasa dengan prasasti lain. Untuk itu digunakan ilmu bantu yakni Paleografi (Ilmu huruf kuno), sehingga dapat diperkirakan umur relatif dari suatu prasasti. Disamping menggunakan metode komparatif, juga bisa pada nama raja atau pejabat kerajaan yang sudah diketahui dengan pasti tahun pemerintahannya (deduktif).


Sesuai dengan kedudukan dan fungsi prasasti, manunjukkan bahwa prasasti sebagai sumber sejarah memiliki kekurangan-kekurangan, antara lain: hanya memberikan hal-hal yang resmi saja, pemberitaannya acapkali mempunyai tendensi tertentu, terutama pemujaan kepada raja (kingworship), dan ada kalanya secara sadar atau tidak pemberitaanya diatur sedemikian rupa sehingga kadang-kadang harus mengorbankan sifat obyektifnya.


Meskipun demikian, prasasti sebagai sumber sejarah mempunyai kelebihan-kelebihan, antara lain: merupakan bukti konkret dari pada aktifitas dalam berbagai bidang dari raja-raja pada masa lampau, mengandung banyak fakta masa lampau, mengandung banyak fakta penting dalam berbagai lapangan, dan sifatnya tahan lama, sehingga merupakan warisan abadi bagi peneliti sejarah. 


References

Madjid, A. R. (2016). Sejarah Indonesia Masa Pra Aksara. Makassar: Rayhan Intermedia.

 

TerPopuler